Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Juni 2012

Sistem Imunisasi Padi Sawah : Panen Melimpah 9 Ton Lebih

Penghasilan Melimpah : Cara Internet Bisnis Sistem Syari'ah.
http://SyariahMarketing.com/?id=salimmandiri09

Demplot Teknologi Imunisasi Padi Sawah Mampu Panen 9 Ton Lebih

Penerapan tehnologi imunisasi padi sawah guna meningkatkan produksi dan produktivitas pada suatu daerah. Peningkatan ini sangat berarti bagi pendapatan para petani padi sawah. Dengan menerapkan teknologi imunisasi dapat mencapai 9-12,5 ton per hektar. Penerapan imunisasi ini tidak hanya pada tanaman padi saja bisa digunakan untuk tanaman lain seperti jagung bahkan untuk tanaman buah seperti pepaya juga sangat baik. Paket teknologi imunisasi ini disusun oleh BPTP Kaltim bersama Syngenta.

Petani yang ada di daerah Kalimantan Timur kususnya wilayah binaan BPPPK Muara kaman Kutai Kartanegara produktivitas padi sawah masih sangat rendah yaitu berkisar antara 3 sampai 5 ton per hektar. Dengan penerapan tehnologi baru seperti SRI maupun imunisasi ini mampu memberikan terobosan baru peningkatan produktivitas padi sawah yang ada. Penerapan demplot teknologi imunisasi yang dilaksanakan PPL bersama syngenta yang dipanen bulan April 2010 di lahan bapak Wiji Santoso, Desa Panca Jaya, Kec. Muara Kaman, Kukar, mampu memberikan hasil ubinan 8,9 ton per hektar dan hasil setelah dipanen gabah kering panen 9,6 ton per hektar sedangkan di lahan bapak Mandu Desa Sabintulung, Kec. Muara Kaman, Kukar, hasil ubinan 8,4 ton per hektar dan hasil panen 9,3 ton per hektar GKP. Demplot ini memberikan contoh nyata yang dapat diikuti oleh petani disekitarnya.

Adapun penerapan teknologi imunisasi ini diawali mulai persiapan memilih benih, perlakuan di persemaian dan lahan sawah dengan rincian perlakuannya adalah sebagai berikut :

A. Pola tanam pindah persemaian umur 17 hari.

- Persiapan benih padi ( varietas Ciherang, Mekongga, Cibogo, IR-64, Batang Gadis, Cisantana, Cimelati, Pandan Harum dll) 25 kg benih per hektar. Lakukan seleksi benih dengan cara merendam dengan air garam selama 5-10 menit, lalu tiriskan dan selanjutnya direndam lagi di sungai atau bak selama 12-14 jam lalu ditiriskan, lalu diperam selama 24 jam lagi untuk mengecambahkan dan selanjutnya ditebar di lahan persemaian yang sudah disiapkan sebelumnya secara merata.

- Umur 3 Hari Setelah Sebar (HSS) semprot Virtako dan Amistarstop dicampur dengan dosis masing-masing 5 ml/tangki sprayer.

- Umur 6 HSS Semprot larutan Urea, caranya masukan 5 sendok makan urea ke dalam tangki spreyer yang sudah diisi air.

- Umur 10 HSS taburkan 2 kg urea secara merata

- Umur 13 HSS semprot Virtako dan Amistartop dicampur dengan dosis masing-masing 5 ml/tangki sprayer.

- Umur 17 HSS bibit siap dipindahkan ke sawah.

- Sebelum tanam tanah sawah sudah dipersiapkan, semprot dengan logran 2-3 hari sebelum tanam dengan dosisi 20 gram/hektar.

- Pembuatan jalur legowo sesuai pilihan 4:1 atau 6:1 dan seterusnya menggunakan caplak.

B. Penanaman ke lahan sawah

1. Penanaman menggunakan pola tanam jajar legowo, agar memudahkan dalam teknik pemupukan, pengendalian OPT dan gulma padi. Jajar legowo sangat dianjurkan karena secara nyata mampu meningkatkan populasi anakan perumpun. Pola jajar legowo dapat diterapkan 4:1, 6:1 maupun 13:1 dengan jarak tanam 20x20 dan 40x10 (legowo).
2. Umur 3 Hari Setelah Tanam (HST), semprot dengan Cruiser guna memacu pertumbuhan bibit dan pengandalian OPT sejak dini. Dosis yang digunakan 50 ml (4 bungkus @ 12,5ml) per hektar. Penyemprotan dilakukan pada sore hari setelah matahari mulai kurang panasnya, dengan teknik penyemprotan mengembun.
3. Umur 5 HST, lakukan pemberian pupuk SP36 sebanyak 100 kg/hektar. Tebar secara merata dan dilakukan pada pagi hari. Atau bisa menggunakan pupuk NPK Pelangi + Urea dengan dosis 200 kg NPK pelangi + 50 kg Urea.
4. Umur 10-12 HST, Pemberian pupuk Urea +KCl dengan dosis 100 kg Urea + 50 kg KCl dan pemupukan tetap dilakukan pada pagi hari
5. Umur 14 HST, lakukan penyemprotan dengan menggunakan Virtako guna memacu pertumbuhan bibit anakan dan pengendalian otpsejak dini terutama sundep, beluk, werengdan kupu putih palsu. Dosis menggunakan 100 ml per hektar, atau 10ml per tangki semprot. Penyemprotan dilakukan sore hari dengan teknik semprot mengembun.
6. Umur 26 HST, Pemberian pupuk Urea sebanyak 50 kg/hektar tebar sampai rata, atau diberikan NPK Pelangi 100 kg + Urea 25 kg.
7. Umur 28 HST, Semprot dengan virtako dan Amistartop guna memacu pertumbuhan anakan dan pengendalian OPT, dosis masing masing 100 ml per hektar. Penyemprotan sore hari dengan teknik mengembun.
8. Umur 40 HST, pemberian pupuk Urea 25 kg/hektar tabur secara merata, Pupuk diberikan pada pagi hari
9. Umur 42 HST, semprot Virtako dan Score guna pertumbuhan dan pengendalian OPT (penggerek batang, blast, hawar) dosis masing-masing 100 ml/hektar atau 10ml/tangki sprayer. Penyemprotan dilakukan sore hari dengan teknik mengembun.
10. Umur 56 HST, Semprot Alika dan Amistartop, guna pengisian malai dan pengandalian OPT (walang sangit, penggerek batang, hawar, blast, busuk leher) dosis 100ml/hektar dilakukan sore hari dengan tektik mengembun.
11. Umur 65 HST, Semprot Alika dan Score guna memacu pengisian malai (bernas) dan pengendalian OPT ( walang sangit, Pengisap malam,busuk leher dan hawar) masing-masing dengan dosis 100 ml/hektar disemprotkan waktu sore hari dengan teknik mengembun.
12. Umur 70 HST, bila masih perlu semprot dengan Alika guna pengendalian OPT pengisap malam dengan dosis 100 ml/hektar penyemprotan dilakukan sore hari dengan teknik mengembun.
13. Panen dilakukan setelah bulir padi menguning (masak fisiologis) merata sekitar 90-95 % jangan menunggu sampai kering daunnya.

Lakukan tehnologi ini apabila ingin meraih sukses dalam berusaha tani padi sawah, kunci untuk sukses dalam berusaha adalah tepat dosis, cara, tempat dan waktu, dalam melakukan pekerjaan pertanian kita harus bekerja dengan bersemangat, cerdas, iklas dan sampai selesai jangan setengah-setengah.





Suharto, S.P.

PPL BPPPK Muara Kaman

Hama dan Penyakit Padi : Cara Pengendalian

Bisnis yang Halal dan Menentramkan
http://SyariahMarketing.com/?id=salimmandiri09

1.Hama Hama di Persemaian Basah (untuk padi sawah)
a)Hama di Persemaian Basah (untuk padi sawah)
1.Hama putih (Nymphula depunctalis)
Gejala: menyerang daun bibit, kerusakan berupa titik-titik yang memanjang sejajar tulang daun, ulat menggulung daun padi. Pengendalian: (1) pengaturan
air yang baik, penggunaan bibit sehat, melepaskan musuh alami,
menggugurkan tabung daun; (2) penyemprotan insektisida Kiltop 50 EC atau
Tomafur 3G.
2.Padi trip (Trips oryzae)
Gejala: daun menggulung dan berwarna kuning sampai kemerahan,
pertumbuhan bibit terhambat, pada tanaman dewasa gabah tidak berisi.
Pengendalian: insektisida Mipein 50 WP atau Dharmacin 50 WP.
3.Ulat tentara (Pseudaletia unipuncta, berwarna abu-abu; Spodoptera litura,
berwarna coklat hitam; S. exempta, bergaris kuning)
Gejala: ulat memakan helai daun, tanaman hanya tinggal tulang-tulang daun.
Pengendalian: cara mekanis dan insektisida Sevin, Diazenon, Sumithion dan
Agrocide.

2.Hama di Sawah
a)Wereng penyerang batang padi: wereng padi coklat (Nilaparvata lugens), wereng
padi berpunggung putih (Sogatella furcifera).
Merusak dengan cara mengisap cairan batang padi. Saat ini hama wereng paling
ditakuti oleh petani di Indonesia. Wereng ini dapat menularkan virus. Gejala:
tanaman padi menjadi kuning dan mengering, sekelompok tnaman seperti
terbakar, tanaman yang tidak mengering menjadi kerdil. Pengendalian: (1)
bertanam padi serempak, menggunakan varitas tahan wereng seperti IR 36, IR 48, IR 64, Cimanuk, Progo dsb, membersihkan lingkungan, melepas musuh alami
seperti laba-laba, kepinding dan kumbang lebah; (2) penyemportan insektisida
Applaud 10 WP, Applaud 400 FW atau Applaud 100 EC.
b)Wereng penyerang daun padi: wereng padi hijau (Nephotettix apicalis dan N.
impicticep).
Merusak dengan cara mengisap cairan daun. Gejala: di tempat bekas hisapan
akan tumbuh cendawan jelaga, daun tanaman kering dan mati. Tanaman ada
yang menjadi kerdil, bagian pucuk berwarna kuning hingga kuning kecoklatan.
Malai yang dihasilkan kecil.
c)Walang sangit (Leptocoriza acuta)
Menyerang buah padi yang masak susu. Gejala: dan menyebabkan buah hampa
atau berkualitas rendah seperti berkerut, berwarna coklat dan tidak enak; pada
daun terdapat bercak bekas isapan dan buah padi berbintik-bintik hitam.
Pengendalian: (1) bertanam serempak, peningkatan kebersihan, mengumpulkan
dan memunahkan telur, melepas musuh alami seperti jangkrik; (2)
menyemprotkan insektisida Bassa 50 EC, Dharmabas 500 EC, Dharmacin 50 WP,
Kiltop 50 EC.
d)Kepik hijau (Nezara viridula)
Menyerang batang dan buah padi. Gejala: pada batang tanaman terdapat bekas
tusukan, buah padi yang diserang memiliki noda bekas isapan dan pertumbuhan
tanaman terganggu. Pengendalian: mengumpulkan dan memusnahkan telur-
telurnya, penyemprotan insektisida Curacron 250 ULV, Dimilin 25 WP, Larvin 75
WP.
e)Penggerek batang padi terdiri atas: penggerek batang padi putih (Tryporhyza
innotata), kuning (T. incertulas), bergaris (Chilo supressalis) dan merah jambu
(Sesamia inferens).
Dapat menimbulkan kerugian besar. Menyerang batang dan pelepah daun.
Gejala: pucuk tanaman layu, kering berwarna kemerahan dan mudah dicabut,
daun mengering dan seluruh batang kering. Kerusakan pada tanaman muda
disebut hama “sundep” dan pada tanaman bunting (pengisian biji) disebut “beluk”.
Pengendalian: (1) menggunakan varitas tahan, meningkatkan kebersihan
lingkungan, menggenangi sawah selama 15 hari setelah panen agar kepompong
mati, membakar jerami; (2) menggunakan insektisida Curaterr 3G, Dharmafur 3G,
Furadan 3G, Karphos 25 EC, Opetrofur 3G, Tomafur 3G.
f)Hama tikus (Rattus argentiventer)
Tanaman padi akan mengalami kerusakan parah apabila terserang oleh hama
tikus dan menyebabkan penurunan produksi padi yang cukup besar. Menyerang
batang muda (1-2 bulan) dan buah. Gejala: adanya tanaman padi yang roboh
pada petak sawah dan pada serangan hebat ditengah petak tidak ada tanaman.

Pengendalian: pergiliran tanaman, sanitasi, gropyokan, melepas musuh alami
seperti ular dan burung hantu, penggunaan pestisida dengan tepat, intensif dan
teratur, memberikan umpan beracun seperti seng fosfat yang dicampur dengan
jagung atau beras.
g)Burung (manyar Palceus manyar, gelatik Padda aryzyvora, pipit Lonchura
lencogastroides, peking L. puntulata, bondol hitam L. ferraginosa dan bondol putih
L. ferramaya).
Menyerang padi menjelang panen, tangkai buah patah, biji berserakan.
Pengendalian: mengusir dengan bunyi-bunyian atau orang-orangan.

3.Penyakit
a)Bercak daun coklat
Penyebab: jamur Helmintosporium oryzae). Gejala: menyerang pelepah, malai,
buah yang baru tumbuh dan bibit yang baru berkecambah. Biji berbercak-bercak
coklat tetapi tetap berisi, padi dewasa busuk kering, biji kecambah busuk dan
kecambah mati. Pengendalian: (1) merendam benih di dalam air panas,
pemupukan berimbang, menanam padi tahan penyakit ini, menaburkan serbuk air
raksa dan bubuk kapur (2:15); (2) dengan insektisida Rabcide 50 WP.
b)Blast
Penyebab: jamur Pyricularia oryzae. Gejala: menyerang daun, buku pada malai
dan ujung tangkai malai. Serangan menyebabakn daun, gelang buku, tangkai
malai dan cabang di dekat pangkal malai membusuk. Proses pemasakan
makanan terhambat dan butiran padi menjadi hampa. Pengendalian: (1)
membakar sisa jerami, menggenangi sawah, menanam varitas unggul Sentani,
Cimandirim IR 48, IR 36, pemberian pupuk N di saaat pertengahan fase vegetatif
dan fase pembentukan bulir; (2) menyemprotkan insektisida Fujiwan 400 EC,
Fongorene 50 WP, Kasumin 20 AS atau Rabcide 50 WP.
c)Penyakit garis coklat daun (Narrow brown leaf spot,)
Penyebab: jamur Cercospora oryzae. Gejala: menyerang daun dan pelepah.
Tampak gari-garis atau bercak-bercak sempit memanjang berwarna coklat
sepanjang 2-10 mm. Proses pembungaan dan pengisian biji terhambat.
Pengendalian: (1) menanam padi tahan penyakit ini seperti Citarum,
mencelupkan benih ke dalam larutan merkuri; (2) menyemprotkan fungisida
Benlate T 20/20 WP atau Delsene MX 200.
d)Busuk pelepah daun
Penyebab: jamur Rhizoctonia sp. Gejala: menyerang daun dan pelepah daun,
gejala terlihat pada tanaman yang telah membentuk anakan dan menyebabkan
jumlah dan mutu gabah menurun. Penyakit ini tidak terlalu merugikan secara
ekonomi. Pengendalian: (1) menanam padi tahan penyakit ini; (2)
menyemprotkan fungisida pada saat pembentukan anakan seperti Monceren 25
WP dan Validacin 3 AS.

e)Penyakit fusarium
Penyebab: jamur Fusarium moniliforme. Gejala: menyerang malai dan biji muda,
malai dan biji menjadi kecoklatan hingga coklat ulat, daun terkulai, akar
membusuk, tanaman padi. Kerusakan yang diderita tidak terlalu parah.
Pengendalian: merenggangkan jarak tanam, mencelupkan benih pada larutan
merkuri.
f)Penyakit noda/api palsu
Penyebab: jamur Ustilaginoidea virens. Gejala: malai dan buah padi dipenuhi
spora, dalam satu malai hanya beberap butir saja yang terserang. Penyakit tidak
menimbulkan kerugian besar. Pengendalian: memusnahkan malai yang sakit,
menyemprotkan fungisida pada malai sakit.
g)Penyakit kresek/hawar daun
Penyebab: bakteri Xanthomonas campestris pv oryzae) Gejala: menyerang daun
dan titik tumbuh. Terdapat garis-garis di antara tulang daun, garis melepuh dan
berisi cairan kehitam-hitaman, daun mengering dan mati. Serangan menyebabkan
gagal panen. Pengendalian: (1) menanam varitas tahan penyakit seperti IR 36, IR
46, Cisadane, Cipunegara, menghindari luka mekanis, sanitasi lingkungan; (2)
pengendalian kimia dengan bakterisida Stablex WP.
h)Penyakit bakteri daun bergaris/Leaf streak
Penyebab: bakteri X. translucens. Gejala: menyerang daun dan titik tumbuh.
Terdapat garis basah berwarna merah kekuningan pada helai daun sehingga
daun seperti terbakar. Pengendalian: menanam varitas unggul, menghindari luka
mekanis, pergiliran varitas dan bakterisida Stablex 10 WP.
i)Penyakit kerdil
Penyebab: virus ditularkan oleh serangga Nilaparvata lugens. Gejala: menyerang
semua bagian tanaman, daun menjadi pendek, sempit, berwarna hijau kekuning-
kuningan, batang pendek, buku-buku pendek, anakan banyak tetapi kecil.
Penyakit ini sangat merugikan. Pengendalian: sulit dilakukan, usaha pencegahan
dilakukan dengan memusnahkan tanaman yang terserang ada memberantas
vektor.
j)Penyakit tungro
Penyebab: virus yang ditularkan oleh wereng Nephotettix impicticeps. Gejala:
menyerang semua bagian tanaman, pertumbuhan tanaman kurang sempurna,
daun kuning hingga kecoklatan, jumlah tunas berkurang, pembungaan tertunda,
malai kecil dan tidak berisi. Pengendalian: menanam padi tahan wereng seperti
Kelara, IR 52, IR 36, IR 48, IR 54, IR 46, IR 42.

4.Gulma
Gulma yang tumbuh di antara tanaman padi adalah rumput-rumputan seperti rumput
teki (Cytorus rotundus) dan gulma berdaun lebar. Pengendalian dengan cara
mekanis (mencabut, menyiangi), jarak tanam yang tepat dan penyemprotan
herbisida Basagran 50 ML, Difenex 7G, DMA 6 dll.