Selasa, 24 Juli 2012

Purdi E Chandra : Jadilah Entrepreneur

Gagal Kuliah, Jadilah Entrepreneur
Wednesday, 16 March 2011 00:00
"Mulailah berwirausaha justru di saat kita tidak punya apa-apa" Purdi E. Chandra

Waktu kuliah dulu saya punya teman yang pandai dan memiliki wawasan dunia bisnis yang lumayan. Ide-ide rencana usaha yang muncul dari pemikirannya sangat cemerlang. Selalu saja, ide-ide itu adalah ide bisnis yang menarik, prospektif, dan berpeluang besar untuk digarap. Semua teman kuliah berdecak kagum dengan lontaran ide-idenya.

Tetapi ide-ide itu tinggal ide saja. Sampai hari ini belum ada satu pun bisnis yang pernah dijalankannya. Malahan, terakhir saya ketemu dia, berstatus karyawan sebuah perusahaan publik di Jakarta. Dia memang terlalu pandai untuk merencanakan sebuah usaha sekaligus terlalu takut untuk memulai.

Ada juga mahasiswa yang pernah datang pada saya. Dia menyatakan ingin berwirausaha, kemudian dia mengatakan, bahwa dirinya belum punya modal dan tidak begitu pandai. Saya katakan pada dia: “Kebetulan!” Kemudian saya katakan lagi: “Jangan takut, karena modal utama untuk memulai bisnis adalah keberanian.”

Mengapa saya katakan seperti itu? Sebab, biasanya kalau terlalu pinter itu malah terlalu berhitung. Orang yang tahu banyak hal, maka dia akan tahu banyak risiko dan halangan di depannya. Hal itu menurut saya justru akan menciutkan nyalinya.

Saya malah pernah bilang pada seorang sarjana yang ingin berwirausaha. Saya katakan: “Sekarang, abaikan ijazahmu. Buatlah dirimu seolah-olah tidak punya apa-apa, kecuali semangat dan keinginan yang kuat.”

Saya teruskan: “Mulailah berwirausaha justru pada saat Anda tidak punya apa-apa. Saat Anda merasa tertekan. Saat Anda tidak dapat berbuat apa-apa dengan ijazah Anda. Saat Anda kebingungan karena harus bayar kredit rumah. Atau pada saat Anda merasa terhina.”

Memang nasehat saya ini agak berbeda dengan kebanyakan orang. Biasanya orang menyarankan, kalau mau usaha sebaiknya mengumpulkan modal dulu, kemudian cari tempat dan seterusnya. Tetapi, banyak orang sukses sebagai wirausahawan justru dimulai dari sebaliknya, hanya punya semangat dan tidak punya apa-apa. Kondisi yang ada memaksa mereka harus “bermimpi” tentang masa depannya, kemudian tertantang untuk menggapainya, dan berusaha keras untuk mewujudkannya.

Anda tentu tahu atau paling tidak pernah mendengar nama Steve Jobs. sebelumnya dia bukan siapa-siapa. Jobs hanyalah anak muda yang gemar bercelana jeans belel dan berkantong kempes. Belakangan, dia membuat Apple Computer di garasi rumahnya, dan mendirikan perusahaan yang masuk Fortune 500 lebih cepat dari siapapun sepanjang sejarah.

Jobs adalah contoh orang yang berhasil dalam berwirausaha, justru bukan karena kepandaiannya di bangku kuliah. Tapi, karena ia memiliki keberanian dan keyakinan akan usaha yang digelutinya. Dia mampu bertindak merealisasi gagasannya dengan meninggalkan lingkungan kuliah dan teman-temannya yang suka berhura-hura.

Tapi, saya tidak menyarankan Anda untuk mengabaikan pendidikan. Hanya saja, saya ingin mengatakan, bahwa untuk menjadi wirausahawan terlebih dahulu dibutuhkan keberanian memulai (bertindak), untuk memanfaatkan peluang bisnis yang ada. Hal tersebut harus segera dilakukan, sebelum orang lain mendahuluinya. Kepandaian akademis akan diperlukan bila usaha kita sudah berjalan, dan itu bisa kita dapatkan dengan mengikuti kuliah lagi, atau kita bisa membayar orang-orang pandai sebagai karyawan atau konsultan.
Last Updated on Thursday, 14 July 2011 04:34

Senin, 23 Juli 2012

Bob Sadino : Profil Pengusaha Sukses

Bob Sadino (Lampung, 9 Maret 1933), atau akrab dipanggil om Bob, adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat menggunakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya. Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan.

Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.
Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Ia membawa serta 2 Mercedes miliknya, buatan tahun 1960-an. Salah satunya ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan sementara yang lain tetap ia simpan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri.
Pekerjaan pertama yang dilakoninya setelah keluar dari perusahaan adalah menyewakan mobil Mercedes yang ia miliki, ia sendiri yang menjadi sopirnya. Namun sayang, suatu ketika ia mendapatkan kecelakaan yang mengakibatkan mobilnya rusak parah. Karena tak punya uang untuk memperbaikinya, Bob beralih pekerjaan menjadi tukang batu. Gajinya ketika itu hanya Rp.100. Ia pun sempat mengalami depresi akibat tekanan hidup yang dialaminya.
Suatu hari, temannya menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi berwirausaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa.
Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual beberapa kilogram telor. Dalam tempo satu setengah tahun, ia dan istrinya memiliki banyak langganan, terutama orang asing, karena mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya tinggal di kawasan Kemang, Jakarta, di mana terdapat banyak menetap orang asing.
Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks. Ia selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek.
Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah.
Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.
Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. “Yang paling penting tindakan,” kata Bob.
Keberhasilan Bob tidak terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob trampil dan menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional.
Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain.
Sedangkan Bob selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.
Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.
Anak Guru
Kembali ke tanah air tahun 1967, setelah bertahun-tahun di Eropa dengan pekerjaan terakhir sebagai karyawan Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg, Bob, anak bungsu dari lima bersaudara, hanya punya satu tekad, bekerja mandiri. Ayahnya, Sadino, pria Solo yang jadi guru kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang, meninggal dunia ketika Bob berusia 19.
Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar sawah dan kebun. Sedangkan mobil satunya lagi ditaksikan, Bob sendiri sopirnya.
Suatu kali, mobil itu disewakan. Ternyata, bukan uang yang kembali, tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya. ”Hati saya ikut hancur,” kata Bob. Kehilangan sumber penghasilan, Bob lantas bekerja jadi kuli bangunan. Padahal, kalau ia mau, istrinya, Soelami Soejoed, yang berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa menyelamatkan keadaan. Tetapi, Bob bersikeras, ”Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari nafkah.”
Untuk menenangkan pikiran, Bob menerima pemberian 50 ekor ayam ras dari kenalannya, Sri Mulyono Herlambang. Dari sini Bob menanjak: Ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik. Lalu ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah ”warung” shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Catatan awal 1985 menunjukkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton daging segar, 60 sampai 70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar.
”Saya hidup dari fantasi,” kata Bob menggambarkan keberhasilan usahanya. Ayah dua anak ini lalu memberi contoh satu hasil fantasinya, bisa menjual kangkung Rp 1.000 per kilogram. ”Di mana pun tidak ada orang jual kangkung dengan harga segitu,” kata Bob.
Om Bob, panggilan akrab bagi anak buahnya, tidak mau bergerak di luar bisnis makanan. Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang tidak ada habis-habisnya. Karena itu ia tak ingin berkhayal yang macam-macam.
Haji yang berpenampilan nyentrik ini, penggemar berat musik klasik dan jazz. Saat-saat yang paling indah baginya, ketika shalat bersama istri dan dua anaknya.
Nama :
Bob Sadino
Lahir :
Tanjungkarang, Lampung, 9 Maret 1933
Agama :
Islam
Pendidikan :
-SD, Yogyakarta (1947)
-SMP, Jakarta (1950)
-SMA, Jakarta (1953)
Karir :
-Karyawan Unilever (1954-1955)
-Karyawan Djakarta Lloyd, Amsterdam dan Hamburg (1950-1967)
-Pemilik Tunggal Kem Chicks (supermarket) (1969-sekarang)
-Dirut PT Boga Catur Rata
-PT Kem Foods (pabrik sosis dan ham)
-PT Kem Farms (kebun sayur)
Alamat Rumah:
Jalan Al Ibadah II/12, Kemang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 793981
Alamat Kantor :
Kem Chicks Jalan Bangka Raya 86, Jakarta Selatan Telp: 793618
Referensi :
- http://pengusahamuda.wordpress.com/biografi/
- http://id.wikipedia.org/wiki/Bob_Sadino

Minggu, 22 Juli 2012

Rahasia Sukses, Belajar dari Kesalahan Mengelola Keuangan

http://SyariahMarketing.com/?id=salimmandiri09

Pantang Menyerah

Setelah lulus SD. Marsono menyusul ibunya ke yogya. Tapi, bayangkan bisa melanjutkan sekolah dengan mulus, kandas. Kelas II SMP dia drop out. Usaha orangtuanya, jual material bangunan, kembang kempis. Dia harus keluar sekolah. Lalu terpanggil ikut kerja membantu ibunya.

Bermodal ketekunan dan kejujuran Marsono ikut membantu usaha orangtuanya. Dia cermati, mengapa usaha orangtuanya tidak berkembang. Sampai akhirnya dia tahu dimana letak kesalahannya.

Sebab utamnya pada pengelolaan keuangan. Seharusnya uang hasil usaha digunakan untuk mengembangkan dagangan agar lebih besar. Tidak lantas digunakan untuk usaha yang lain.

Usia 18 tahun, Marsono berani menikahi Imukodah. Dari perkawinannya, kini dikaruniai tiga orang anak. Anak pertamanya, sarjana farmasi yang kini punya usaha apotek di Dlingo Bantul. Sulungnya itu telah memberinya cucu.

Anak kedua kuliah di Fakultas Hukum UII. Si bungsu masih di sekolah lanjutan. Kepada tiga anaknya dikenalkan bagaimana jerih payahnya mencari uang. Ada semacam kewajiban sepulang sekolah harus ikut membantu menjaga toko.

“Saya memulai usaha dengan modal Rp.35 ribu hanya cukup untuk sewa tempat,” uangkap Marsono yang merasa beruntung didampingi oleh istrinya Imukodah dalam melakoni lara-lapa.

Saat itu, tahun 1983, situasi sangat sulit. Langkah awal yang dilakukan, membuka usaha jual material. Awal mula usaha, hanya ada pasir satu cold dan batu bata titipan sebanyak seribu buah untuk menambah modal. Marsono menyewa becak yang kemudian digunakan untuk mengangkut sampah.

Dia jadi tukang buang sampah dari beberapa juragan kaya di seputar Karangkajen dan Prawirotaman. Ketika ada sampah bongkaran rumah, batu bata yang masih bisa dimanfaatkan, dia kumpulkan. Lantas ditumbuknya menjadi semen merah. Lalu dijual.

Imukodah berperan sebagai pengayak, menyaring remukan batu bata lembut (disebut semen merah). Itu pekerjaan berat dan butuh ketelatenan. Jarang ada perempuan muda yang mau menjalani pekerjaan itu.

Permintaan bahan bangunan sangat banyak dan lancar. Di antar sendiri semua pesanan dengan becak sewaan. Melayani konsuen dengan ramah, tepat waktu dan jujur. Itulah yang menjadi prinsipnya berdagang. Pesanan material semakin besar. Di tak sanggup lagi menanganinya sendiri.

Kemudian sewa gerobak sapi sekaligus dengan kusirnya. Perlahan dan pasti, usahanya berkembang. Aliran rezeki pun semakin lancar. Dan, untuk mendukung perkembangan usaha, tahun 1984, Marsono membeli colt bekas keluaran 1974 seharga Rp. 275 ribu.

“Prinsip memanfaatkan uang dengan benar. Maksudnya uang dari hasil usaha digunakan untuk menambah modal usaha. Untuk makan sehari-hari saya melakukan kerja sampingan buang sampah itu”, kenangnya.

Berkah dari ketekunan akhirnya mengucur bagaikan curahan hujan yang membasahi bumi. Banyak proyek yang mengambil bahan material dari pangkalannya.

Modal pun samakin kuat. Lantas, dia mulai membeli tanah yang dipakainya untuk tempat usaha secara bertahap. Sampai akhirnya tanah seluas 6 ribu meter persegi tuntas terbeli. Di tempat itulah kini menjadi lokasi bisnis Marsono bernama UD Ika Sari.

Ada dua bangunan yang besar dan megah di lokasi itu. Sebelah barat bangunan lantai dua dijadikan tempat tinggalnya. Sebelah timur bangunan yang luas, bagian depan dijadikan tOko, bengkel las dan pertukangan kayu.

Pun di sisa lahan yang begitu luas, tumpukan material pasir cukup tinggi menggunung. Bongkahan batu kali pun demikian.

Selain itu, di pekarangan belakangan digunakan untuk pabrik batako, paving dan loster. Untuk mengantar pesanan material ke konsumen sudah ada 10 armada colt dan 2 armada truk miliknya yang siap melayani pembeli.

Marsono benar-benar fokus pada usahanya. Segala macam bahan yang berkaitan dengan bangunan semua lengkap tersedia di tokonya. Kegiatan lainnya (las, pertukangan kayu dan pembuatan batako, paving, loster) semata untuk mendukung usaha barunya di dunia properti.

Sudah puluhan unit rumbah dibangunnya dengan harga lebih dari Rp. 300 juta per unit. Diapun mendulang penghasilan fantastis dari usahanya itu. Omzet perharinya kisaran Rp. 20 juta.

Meski demikian, semua itu tidak lantas membuat Marsono takabur. Dia tetap sebagaimana adanya. Sifatnya yang sederhana, dan tidak neko-neko. Dengan kelebihan harta yang dimilikinya dia pun tidak melupakan perjuangannya.

Sehingga secara tertib dia selalu menyisihkan keuntungan untuk sedekah, zakat dan membantu sesama yang membutuhkan pertolongan. Ini kedermawanan yang ketika kecil dulu, tak pernah terbayangkan.

“Semua ini wajib disyukuri. Bisa membantu banyak orang, setidaknya saya memiliki manfaat buat orang lain. Terlebih bagi keluarga,” tukasnya mengakhiri kisahnya pada Kedaulatan Rakyat.

Kisah Pemulung yang berhasil menjadi Pengusaha Sukses

Sukses binis roti

Kehidupat ibarat roda. Yang di bawah suatu saat bisa naik ke Puncak. Begitulah kira-kira yang dialami pasangan Ngatijan Kismo Utomo dan Sukinah, pengusaha roti dan cake dari Pandak Bantul. Sebelum sukses berbisnis roti, mereka adalah pencari barang-barang rongsok, pemulung. Pekerjaan yang barangkali oleh sebagian orang dianggap hina.

Kegigihan menjadikan kehidupan keluarga itu kini mapan. Tujuh anaknya sudah punya mobil dan tanah. Semuanya berkat kerja keras orang tua. Padahal, dulu kondisi ekonomi keluarga ini cukup memprihatinkan. Keduanya harus bekerja keras. Jadi loper Koran, tukang becak, sopir dan pemulung. Maklum, mereka dikaruniai 7 anak. Biaya hidup serta kebutuhan lainnya jelas sangat besar. Maka, keduanya harus bekerja.

Mereka menjalani kerasnya kehidupan dengan ketabahan. Perjalanan nasib dilakoninya dengna penuh keikhlasan. Bahkan pengalaman hidup yang paling pahit pun pernah dilakoni mereka pada tahun 1977. Dituduh nyolong sepeda. Karena tetangganya ada yang kehilangan sepeda, tudingan maling pun diarahkan ke Ngatijan.

Akibatnya dia harus merikuk di dalam sel tahanan Polsek Pandak selama 13 hari. Tudingan tersebut didasari alasan, sepeda butut yang ibasa digunakan Sukinah mencari barang-barang rongsok, tiba-tiba stang, porokdansedelnya berubah baru. Hal itu menimbulkan kecurigaan tetangga yang langsung melaporkannya ke polisi.

“Saya dipaksa mengaku. Tapi karena tidak berbuat, ya saya tetap tidak mau. Yang namanya orang susah itu memang harus memiliki kesabarandan keikhlasan. Tapi kebenaran pasti datang, itu yang selalu menjadi keyakinan saya,” papar Ngatijan yang banyak tetangganya acap menyapa dengan panggilan Pak Utomo.

Sukses dengan Usaha Jagung

Menjalankan usaha di daerah seperti wilayah Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, ternyata tidak membuat Kartini menyerah pada keadaan sekitarnya yang bisa dibilang sangat jauh dari hingar bingar kota besar. Melihat potensi jagung yang cukup melimpah di daerah tempat tinggalnya, Kartini nekat untuk merintis usaha jual beli jagung yang menjanjikan untung besar setiap bulannya.

Bila pedagang jagung lainnya mengandalkan para tengkulak untuk memasarkan produk-produknya, Kartini lebih memilih memanfaatan teknologi modern seperti media online untuk memperluas jangkauan pasarnya. Melalui situs online atau website yang sengaja Ia ciptakan, Kartini mendapatkan banyak klien dari Pulau Jawa maupun luar Jawa. Sebut saja seperti Daerah Blora dan Pemalang Jawa Tengah, Tuban, Malang, Madiun, dan Ponorogo Jawa Timur, Tasikmalaya, Jakarta, serta beberapa daerah di Pulau Sumatera dan Kalimantan.

Di bawah bendera UD. Putra Megatawang, semakin hari semakin banyak pula calon konsumen yang mengetahui keberadaan bisnis jual beli jagung yang dijalankan Kartini. Melalui strategi promosi online yang Ia jalankan, setiap harinya Putra Megatawang bisa mengirimkan hasil panen jagung sekitar 200 ton ke beberapa pembeli yang tersebar di berbagai pelosok negeri. Dengan harga jual jagung basah berkisar Rp 1.500 per kilogramnya, bisnis Kartini diperkirakan mendatangkan omset per hari hingga Rp 300 juta atau sekitar Rp 9 milyar setiap bulannya.

Dibantu oleh 30 orang tenaga kerja srabutan dan 10 orang tenaga admin, sekarang ini bisnis Kartini tidak hanya menjadi suplier jagung saja namun juga mulai memasarkan hasil bumi lainnya, seperti gabah, beras, kacang hijau, kedelai, dan lain sebagainya.

Dengan menjunjung tinggi kejujuran dalam menjalankan usahanya serta menawarkan harga bersaing kepada para pembelinya, sekarang ini omset milyaran rupiah setiap bulannya bisa masuk ke kantong Kartini dari transaksi jual beli jagung yang telah Ia tekuni.

Semoga informasi singkat mengenai kisah pengusaha sukses menekuni bisnis jagung yang kami angkat pada pekan ini bisa memberikan manfaat bagi para pembaca dan menginspirasi seluruh lapisan masyarakat di berbagai pelosok daerah untuk terus berkarya menciptakan peluang bisnis baru dan mendatangkan untung besar setiap bulannya. Maju terus UKM Indonesia dan salam sukses

Aburizal Bakrie : Kisah Pengusaha Sukes

Selama ini banyak orang bertanya kepada saya bagaimana rahasianya menjadi pengusaha yang sukses. Mereka berharap saya bersedia membagi pengalaman dan kiat-kiat berusaha supaya sukses.

Bagi saya, membagi pengalaman kepada orang lain menyenangkan, apalagi bila pengalaman saya tersebut bermanfaat.

Senin 5 April lalu, saya diundang oleh Universitas Islam As Syafiiyah, Jakarta, untuk membagi pengalaman. Dalam acara bertajuk “Studium Generale Kewirausahaan” itu saya diminta memberikan ceramah mengenai kewirausahaan dan kiat sukses berbisnis.

Kepada para mahasiswa saya katakan untuk sukses berbisnis kita tidak bisa hanya belajar di bangku kuliah saja. Bangku kuliah hanya mengajarkan dasar dan teori. Sisanya kita belajar kepada mereka yang telah berhasil. Orang itu tidak harus S3 untuk menjadi pengusaha. Bisa jadi hanya S1 seperti saya, bahkan ada yang tidak memiliki ijasah.

Apa langkah pertama yang harus dilakukan untuk memulai usaha dan menggapai kesuksesan? Jawabannya adalah mimpi. Kita harus berani bermimpi menjadi orang yang sukses. Sejarah juga membuktikan banyak temuan hebat dan orang sukses dimulai dari sebuah mimpi. Kalau anda bermimpi saja tidak berani, ngapain membuka usaha.

Tentu saja tidak hanya berhenti sekedar mimpi untuk mencapai sukses. Setelah mimpi anda bangun, lalu pikirkanlah mimpi anda. Berfikirlah yang besar. Seperti kata miliarder Amerika Donald Trump; if you think, think big. Pikir yang besar, pikir jadi presiden, jangan pikir yang kecil-kecil.

Setelah itu anda buat rencana, buat rincian, dan bentuk sebuah tabel. Terakhir, yang paling penting, segera jalankan rencana tersebut. Jika anda bertanya perlukah berdoa? saya katakan berdoa itu perlu (baca : sangat penting). Tapi perencanaan juga perlu. Doa saja tanpa perencanaan saya rasa tidak akan berhasil.

Dulu waktu masih kuliah, saya biasa membuat perencanaan dan membagi waktu. Saya bangun sholat Subuh, lalu latihan karate, setelah itu tidur lagi sampai pukul 10. Baru pukul 11 belajar.

Intinya dengan perencanaan, masalah akan terselesaikan dengan baik. Sekarang juga begitu, saya bagi waktu untuk partai dan lainnya. Pukul sekian seminar, pukul sekian jadi pembicara, pukul sekian… Kadang 10 masalah bisa saya selesaikan sehari.

Keluhan paling sering dilontarkan orang yang tidak berani berusaha adalah tidak mempunyai modal atau dana. Banyak juga yang berkata saya bisa sukses karena ayah saya pengusaha. Itu salah besar. Saat memulai usaha saya tidak mempunyai uang.

Saat akan membeli Kaltim Prima Coal (KPC) saya juga tidak memiliki dana. Caranya saya datangi calon kontraktor dan tawarkan kerjasama yang menguntungkan dia, tapi saratnya dia pinjami saya dana. Saya juga mendatangi bank dan berkata demikian. Lalu dari uang yang dipinjamkan itu, saya membeli KPC dan sekarang menjadi perusahaan besar.

Jangan pernah bicara tidak punya dana. Uang datang jika ada ide besar atau ada proyek yang visible. Bill Gates juga tidak mempunyai uang, tapi dia mempunyai ide bagus. Dia tidak lulus kuliah, dia bukan anak orang kaya, tapi dari garasinya dia bisa membuat Microsoft jadi perusahaan besar.

Maka pikirkan ide yang bagus, lalu anda cari partner yang punya uang. Yakinkan dia dan berkerjasamalah dengan dia. Jika dalam kerjasama partner anda meminta keuntungan lebih besar, jangan persoalkan.

Misal semua ide dari anda tapi anda hanya dapat 10%, itu tidak masalah. Sebab 10% itu masih untung dari pada anda tidak jadi bekerjasama dan hanya dapat nol %. Jangan lihat kantong orang, jangan lihat untung orang, lihat kantong kita ada penambahan atau tidak.

Setelah anda menjalani usaha, suatu saat anda pasti akan menghadapi masalah. Hadapi saja masalah itu, karena masalah adalah bagian dari hidup yang akan terus datang. Saya sendiri juga pernah menghadapi masalah saat krisis ekonomi 1997-1998. Saat itu keadaan perekonomian sulit, semua pengusaha dan perusahaan juga sulit.

Saat itu saya jatuh miskin. Bahkan saya jauh lebih miskin dari pengemis. Ini karena saya memiliki hutang yang sangat besar. Hutang saya saat itu sekitar USD 1 miliar. Di saat yang sulit ini biasanya sahabat-sahabat kita, rekan-rekan kita semua lari.

Karena itu di saat yang sulit ini, kita tidak boleh memperlihatkan kita sedang terpuruk. Jangan perlihatkan kita sedang gelap. Seperti yang diajarkan ayah saya Achmad Bakrie; jangan biarkan dirimu di tempat yang gelap, karena di tempat yang gelap bayangan pun akan meninggalkanmu.

Maka saat susah itu saya tetap tegar dan tidak menunjukkan keterpurukan. Bahkan saya terpilih jadi ketua umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) untuk yang kedua kalinya. Kalau saat itu saya tunjukkan keterpurukan, mana mau mereka memilih saya.

Tapi yang penting setelah kita terpuruk, kita harus bangkit kembali. Kalau saat itu saya tidak bangkit, maka tidak bisa saya seperti saat ini. Saya berprinsip hadapi saja masalah, jangan lari. Banyak usaha yang saya lakukan, misalnya melepas saham keluarga dari 55% jadi tinggal 2,5%. Saya juga mencari pinjaman sana-sini.

Akhirnya dengan usaha keras pada tahun 2001 saya bisa bangkit kembali dan hutang saya bisa dilunasi dan bisnis saya membaik kembali.

Itulah pengalaman saya selama ini. Saya berharap bisa menjadi ilmu yang berguna. Papatah mengatakan pengalaman adalah guru yang paling baik. Sebagai penutup saya ingin bercerita mengenai kisah telur Colombus. Suatu saat Colombus menantang orang-orang untuk membuat telur bisa berdiri.

Saat itu tidak ada satupun orang yang bisa membuat telur berdiri. Kemudian Colombus memberi contoh cara membuat telur berdiri dengan memecahkan bagian bawahnya. Lalu orang-orang berkata; ah, kalau begitu caranya saya juga bisa.

Nah, saya ingin menjadi Colombus. Saya tunjukkan caranya, lalu anda mengatakan; kalau begitu saya juga bisa. Kemudian anda memulai usaha dan menjadi berhasil dan sukses. Saya senang kalau anda sukses, karena semakin banyak orang sukses, semakin maju bangsa ini.

Bagaimana tanggapan anda tentang kisah pengusaha sukses Indonesia diatas, om Ical Bakrie?

(sumber berita : icalbakrie.com)

Sabtu, 21 Juli 2012

Ramadlan : Bulan Penuh Berkah, Rahmat dan Ampunan Allah SWT

Dapatkan GRATISSS! Cerpen Menarik "Sajadah Hati Raichanah"
http://SyariahMarketing.com/?id=salimmandiri09

Man Shooma Romadloona iimaanan wahtisaaban ghufiro lahu maa taqoddama min dzanbihi wamaa ta'akhkhoro..

"Barangsiapa yang berpuasa di bulan Romadlan dengan dasar keimanan dan berharap pahala, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang".

Puasa di bulan ramadlan adalah perintah Allah SWT dan merupakan kewajiban bagi umat Islam, karenanya mari ;
1. Kuatkan keimanan, karena ;
    a. Di dalamnya terdapat Ampunan yang sangat Luas
    b. Terdapat Berkah yang luar biasa
    c. Terdapat Rahmat yang sangat besar
    d. Terdapat pahala yang melimpah
    e. Terdapat Ridlo Allah yang dahsyat

2. Kuatkan Akal-Fikiran, karena ;
    a. Di dalamnya terdapat nilai-nilai teladan islami yang sangat baik
    b. Mampu menjernihkan akal fikiran
    c. Membentuk nalar dan cara pandang yang sangat positif

3. Kuatkan Hati-Nurani, karena ;
    a. Di dalamnya terdapat perjuangan melawan hawa nafsu
    b. Mendatangkan ketentraman, kebahagiaan dan kecintaan yang sangat dalam
    c. Mendamaikan Gejolah emosional negatif

Semoga Tuhan Senantiasa Melimpahkan Berkah dan Rahmat-Nya yang sangat besar kepada kita semua umat Islam.

Selamat menjalankan ibadah puasa, mudah-mudahan semua amal ibadah kita senantiasa diterima oleh Allah SWT, Amin.
(www.salimmandiri.blogspot.com)